Kisah Persik Kediri, Kuda Hitam di Liga Indonesia 2003

Info Seputar Sepakbola Kediri Raya | Persik.co.id

Kisah Persik Kediri, Kuda Hitam di Liga Indonesia 2003

PERSIK.CO.ID – Persik memang bukan klub yang punya tradisi besar seperti Persija Jakarta, Persebaya Surabaya, PSM Makassar, PSMS Medan, ataupun Persib Bandung.

Klub yang berdiri 9 Mei 1950 itu harus berjuang lama untuk bisa menyentuh harumnya kompetisi elite Indonesia. Bahkan, Persik sempat kalah pamor dengan saudara mudanya, Persedikab Kabupaten Kediri yang sudah dua kali berpartisipasi di kompetisi kasta atas Indonesia.

Sepak bola modern hadir di Kediri ketika Wali Kota Kediri, H.A Maschut membawa Sinyo Aliandoe pada tahun 2000-2001. Perubahan gaya bermain yang lebih modern benar-benar terjadi di Persik.

Baca Juga : 4 Mantan Atlet Olahraga Indonesia yang Akan Terjun ke Dunia Politik

Awal Mula

Pada tahun 2003 lalu Persik Kediri hanyalah tim bau kencur di Divisi Utama Liga Indonesia. Saat itu status mereka adalah tim promosi yang diprediksi banyak orang akan numpang lewat di divisi tertinggi sepakbola Indonesia tersebut. Malahan, Persik sendiri kemudian mempertegas prediksi orang-orang tersebut; mereka tidak percaya diri untuk bisa bersaing di Divisi Utama. Target mereka pun hanya sebatas tidak terdegradasi.

Prediksi orang-orang tersebut memang masuk tergolong masuk akal. Persik saat itu tidak mempunyai pemain bintang. Musikan dan Johan Prasetyo, dua pemain lokal terbaik mereka, jelas kalah tenar jika dibandingkan denga Jaenal Ichwan, penyerang Petrokimia Putra (yang sekarang menjadi Persegres Gresik United) maupun Ponaryo Astaman, gelandang andalan PSM Makassar. Lalu, siapa yang mengenal Frank Bob Manuel? Sebagai seorang penyerang asing, Frank Bob Manuel pada awalnya hanya terlihat sebagai “pantas-pantas” di lini depan Persik. Selain itu, Persik juga hanya ditangani oleh Jaya Hartono, yang sebelumnya hanyalah tangan kanan Sinyo Aliandoe.

Dengan pendekatan seperti itu, Persik kemudian mengawali perjalanannya di Divisi Utama dengan napas terengah-engah. Dalam lima pertandingan awal, anak asuh Jaya Hartono tersebut tak pernah menang.

Menariknya, Persik kemudian memilih untuk terus berjuang semampu mereka. Sambil menikmati momen-momen langka yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya, seperti bermain tandang ke markas klub-klub besar Indonesia, mereka terus mengasah diri mereka agar terlihat pantas berkompetisi dengan tim-tim elit di Indonesia.

Pada pekan keenam, saat menjamu PKT Bontang di Stadion Brawijaya, Kediri, kerja keras Persik akhirnya membuahkan hasil. Tidak hanya menang, Macan Putih, julukan Persik, ternyata juga berhasil menang besar: Mereka mengalahkan PKT Bontang empat gol tanpa balas. Frank Bob Manuel dan Musikan, yang mulai terlihat padu di lini depan, menjadi bintang kemenangan Persik dalam laga itu. Kemudian, layaknya sebuah tim yang baru saja meraih gelar, seluruh elemen yang berhubungan dengan Persik Kediri berbahagia menikmati kemenangan perdana Persik di divisi teratas liga Indonesia tersebut.

Sentuhan ajaib Jaya Hartono

Sejak saat itu kepercayaan diri Persik mulai meningkat. Sementara Jaya Hartono terus memberikan yang terbaik dari pinggir lapangan, pemain-pemain Persik mulai sadar bahwa mereka setidaknya bisa berbuat sesuatu untuk timnya. Hariyanto, kapten Persik, berhasil meyakinkan rekan-rekannya bahwa mereka tidak salah tempat. Sementara di lini tengah Johan Prasetyo mampu menujukkan kepada penggemar sepakbola di tanah air bahwa ia adalah seorang pemain muda dengan bakat menjanjikan, duet Musikan dan Frank Bob Manuel seperti tak mau berhenti mencetak gol untuk timnya. Singkat kata, seolah ingin mengatakan, “Kapan lagi kita bisa bermain di Divisi Utama?”, pemain-pemain Persik kemudian mulai menikmati kehidupan barunya di Divisi Utama.

Seiring berjalannya waktu, Persik kediri tiba-tiba menjadi salah satu kandidat kuat peraih gelar liga Indonesia. Bersama PSM Makassar, Persita Tangerang, dan PSS Sleman, Persik bersaing ketat di papan atas Divisi Utama. Sementara orang-orang yang memprediksi Persik akan berada di jurang degradasi saat kompetisi berakhir mulai menutup mulut rapat-rapat, Persik terus tampil meyakinkan. Lawan-lawan mereka, terutama saat bermain di Brawijaya, dibuat tak berkutik. Dan pada tanggal 10 November 2003, kejaiban yang sebelumnya sama sekali tak terpikirkan muncul: setelah berhasil mengandaskan perlawanan Persib Bandung, 4-0, Persik Kediri berhasil memastikan gelar juara liga di Stadion Brawijaya.

Tak tahu sedang berada di dunia nyata atau sedang bermimpi, penggemar Persik kemudian berpesta di Brawijaya. Setelah itu, euforia yang terjadi di Stadion Brawijaya menular ke suluruh sudut Kota Kediri. Warna ungu, warna seragam Persik yang sebelumnya menjadi bahan ejekan dari para penggemar tim-tim mapan di Divisi Utama, menjadi warna paling dominan di Kediri hari itu. Keesokan harinya, koran-koran besar di Indonesia menceritakan prestasi mengejutkan Persik di halaman depan. 

“Jelas saya terkejut menjadi juara. Pada awal musim, saya tidak pernah terpikir untuk meraih gelar juara. Membayangkan saja tidak berani. Kami ini kan tim dari kampung, bukan saingan tim-tim besar seperti Persija, PSM, dan Persita,” kata Jaya Hartono setelah Persik berhasil meraih gelar.

Baca Juga : Jatuh bangun Persik Kediri

Menariknya, keajaiban yang menyelimuti Persik ternyata tidak hanya berhenti sampai di situ. Frank Bob Manuel, yang semula dianggap sebagai penyerang asing biasa saja, ternyata berhasil mencetak 29 gol di sepanjang musim, hanya tertinggal 2 gol dari Oscar Aravena, bomber PSM, yang keluar sebagai top skorer. Selain menjadi pemain terbaik Persik pada musim ini, Musikan juga dinobatkan sebagai pemain terbaik liga. Dan yang terakhir, berkat rapalan mantranya yang jitu, Jaya Hartono juga dipilih menjadi pelatih terbaik liga.

Kejaiban itu kemudian menjadi langkah awal bagi Persik untuk menjadi salah satu tim besar di Indonesia – setidaknya, hingga mereka kembali berhasil meraih gelar juara liga pada tahun 2007 lalu. Saat itu usia mereka memang sudah 53 tahun, sebuah usia yang sebetulnya cukup tua untuk menjadi populer. Meski begitu, para penggemar sepakbola Indonesia sepertinya tidak peduli. Bagaimanapun, Persik sudah berhasil membuat kejutan langka di kancah sepakbola Indonesia.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: