Tak Disangka, Kisah Perjalanan Persik Sungguh Menggugah

Persatuan Sepak Bola Indonesia Kediri | Persik.co.id

Tak Disangka, Kisah Perjalanan Persik Sungguh Menggugah

PERSIK.CO.ID –  Seperti bola, takdir kebelasan Persik Kediri menggelinding tak tentu arah. Jatuh bangun dialami klub sepak bola kebanggan warga Kota Kediri ini, mulai juara Liga Indonesia hingga terperosok ke kasta kompetisi terendah.

Jika tak didukung suporter Persik yang loyal, perjalanan klub berjuluk Macan Putih ini tentu sudah berakhir pada Oktober 2017 lalu. Laga terakhir play-off yang menempatkan Persik melawan PSIR Rembang di Stadion Gelora Delta Sidoarjo mendepak klub sepak bola itu dari kancah Liga 2.  “Itu sangat mengejutkan,” kata Beny Kurniawan, manager Persik yang kala itu menjadi official, Jumat 4 Januari 2019.

Baca Juga : Persik Kediri, Djayati!

Hasil 1-0 untuk PSIR Rembang membuat Persik hanya mampu mengoleksi 4 poin dari 3 pertandingan play-off Grup F. Statusnya sebagai runner-up terbaik juga tak menolong perolehan poin Persik dibanding dua grup lain yang telah melesat jauh. Persik terpuruk ke Liga 3.

Tak hanya menguras air mata pemain dan official. Ribuan pendukung Persik menangis darah menyaksikan takdir tim kebanggannya melakoni pertandingan tarkam. Kenyataan itu terlalu pahit untuk diterima.

Bagaimana tidak, Persik pernah meraih kejayaan sebagai juara umum Liga Indonesia dua kali di tahun 2003 dan 2006. Klub yang kala itu dibidani Iwan Budianto ini juga pernah mewakili Indonesia di Liga Champion Asia 2004 dan 2007. Inilah masa-masa keemasan Persik yang menempatkannya di jajaran elite klub sepak bola tanah air.

Dukungan penuh Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Kota Kediri kepada klub sepak bola memegang peran penting pertumbuhan Persik kala itu. Duet kepengurusan Wali Kota Kediri HA Maschut sebagai ketua umum dan Ketua DPRD Antonius Rahman sebagai ketua harian Persik menjadi nafas terbukanya kran pendanaan pemerintah.

Merekrut pemain asing dan pemain nasional bak membeli kacang goreng bagi pengurus Persik. Christian Gonzales, Ronald Fagundez, Danilo Fernando, Zhang Shuo, Musikan, Budi Sudarsono, Saktiawan Sinaga, Yongki Aribowo, dan Wawan Widiantoro adalah beberapa pemain Persik yang masuk dalam daftar Top Skorer.

Sementara di kubu manajemen diperkuat mantan pemain Niac Mitra Surabaya Jaya Hartono sebagai pelatih kepala, dibantu mantan pemain Arema Malang, Mecky Tata sebagai asisten pelatih. Undur diri Jaya Hartono juga tak menjadi persoalan seiring masuknya Daniel Rukito yang tak kalah bertangan dingin.

Punggawa manajemen itu dikendalikan langsung oleh menantu HA Maschut yang juga mantan manajer tim Arema Malang Iwan Boedianto. Formasi tersebut benar-benar menjadikan Persik sebagai the dream team.

Di tengah menikmati kegemilangan prestasi dan gengsi klub yang melambung tinggi, petaka tiba-tiba menghadang Persik. Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi mendadak menerbitkan Permendagri Nomor 1 tahun 2011 tentang pedoman penyusunan APBD tahun anggaran 2012. Salah satu poin yang memberangus Persik dan seluruh klub bola di Indonesia adalah larangan penggunaan dana  APBD untuk mengongkosi klub sepakbola profesional. Persik pun limbung.

Pergantian ketua umum dari HA Maschut kepada Samsul Ashar sebagai Wali Kota Kediri yang baru menambah keterpurukan tim ini. Puncaknya, Persik terdegradasi ke divisi utama pada akhir kompetisi Liga Super 2009-2010. Persik baru bisa promosi kembali ke Liga Super pada akhir kompetisi divisi utama tahun 2013 dengan menempati peringkat 3 klasemen divisi utama.

Sejak itulah takdir buruk tak bisa dikibaskan dari tim ini. Gonta-ganti pelatih dan pemain tak kunjung memperbaiki prestasi Persik, hingga puncaknya tersungkur ke Liga 3. Sebuah target yang tak pernah dibayangkan manajemen Persik saat mengundang penyanyi dangdut Via Vallen dalam launching tim di Stadion Brawijaya Kota Kediri, 12 April 2017.

Beruntung mental juara, atau lebih tepatnya mental bertahan, yang dimiliki skuad Persik tak luntur begitu saja. Meski terseok, fanatisme Persikmania kepada timnya menjadi darah segar bagi manajemen baru Persik. Dalam berbagai kesempatan, Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar juga terus mengggalang konsolidasi masyarakat Kediri untuk mendukung kembali kebangkitan Persik.

Bekas bendahara Persik yang didapuk menjadi manager Beny Kurniawan memutar otak untuk secepatnya mengeluarkan Persik dari kasta Liga 3. “Berada di liga 3 itu susah. Cari sponsor susah. Manajemen kami yang profesional juga dipaksa bermain tarkam,” keluhnya.

Siasat menawarkan diri menjadi tuan rumah 8 besar Liga 3 tahun 2018 terbukti jitu. Dengan menjadi tuan rumah, peluang Persik untuk mengumpulkan poin makin terbuka lebar. “Kepercayaan diri pemain jelas akan meningkat karena didukung suporter,” terang media officer Persik Canda Adi Surya.

Baca Juga : Ganti PT, Legalitas Persik Kediri Selesai Sesuai Regulasi PSSI

PT Liga Indonesia akhirnya benar-benar mengabulkan permintaan itu. Persik dinilai layak menjadi tuan rumah karena kondisi stadion yang bagus dan representatif. Tak ada pertandingan yang tak dipadati belasan ribu suporter setiap kali Persik berlaga. Hingga akhirnya Persik benar-benar mewujudkan impiannya sebagai juara Liga 3 dan otomatis lolos ke Liga 2. Kesempatan Persik sebagai tim terhormat telah kembali.

Jika tidak ada aral melintang, ribuan pendukung Persik akan menggelar konvoi besok pagi. Piala kerhormatan dan pemain Persik akan diarak menyusuri jalanan Kota Kediri hingga ke kawasan kabupaten.

Tak sekedar pamer, konvoi Sabtu, 5 Januari 2019 lalu telah membangkitkan kembali semangat masyarakat untuk mendukung Persik sebagai tim papan atas. Sekaligus menggugah ingatan konvoi serupa saat Persik menjuarai Liga Indonesia beberapa tahun silam.

Selamat datang kembali Persik.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: