Flashback: Laga WO Kontroversial Persik Kediri vs Persebaya Surabaya

Info Seputar Sepakbola Kediri Raya | Persik.co.id

Flashback: Laga WO Kontroversial Persik Kediri vs Persebaya Surabaya

PERSIK.CO.ID – Tak hanya saat ini, kontroversi nampaknya sudah melekat dan mendarah daging dalam dunia sepak bola Indonesia. Salah satunya terjadi pada 29 April 2010 lalu, di laga terakhir Indonesia Super League (ISL) musim 2009/10, antara Persik Kediri vs Persebaya Surabaya. Bagi kedua tim, itu merupakan laga hidup mati yang super penting. Karena kemenangan bisa membuat mereka menggeser Pelita Jaya di posisi ke-15, dan masuk zona play-off promosi-degradasi, dan berpeluang bertahan di kasta tertinggi.

Saat itu, Persik Kediri sendiri menduduki posisi ke-16 dengan 39 poin, diikuti Persebaya dengan 36 poin. Namun sayang, laga urung digelar dan meninggalkan sejumlah kontroversial, yang akhirnya menjadi cerita kelam bagi kedua klub.

Ketika tanggal 29 April 2010 tiba, Persik Kediri dijadwalkan akan bertemu dengan Persebaya Surabaya di Stadion Brawijaya, dalam laga terakhir Indonesia Super League.  Jika ingin terhindar dari zona degradasi dan masuk ke play-off promosi-degrasi, Persik diwajibkan menang dengan skor 5-0 sedangkan Persebaya wajib menang 3-0. Sementara Pelita, menanti hasil dari kedua tim. Namun, laga urung digelar karena Persik selaku tuan rumah gagal mendapat izin dari pihak kepolisian, sampai hari H. Sebagai gantinya, pihak Persik diberi kesempatan untuk memindahakn venue ke Stadion Mandala Krida, Yogyakarta pada tanggal 6 Mei 2010.

Nahas, surat izin dari pihak kepolisian untuk menggelar pertandingan kembali gagal didapat oleh panpel Persik. Sementara skuat Persebaya sudah berada di stadion. Alhasil Bajul Ijo pun akhirnya ditahbiskan meraih kemenangan WO dengan skor 3-0 oleh wasit, karena tuan rumah Persik tak kunjung datang. Berdasarkan Manual Liga saat itu (pasal 26 ayat 6), ketika tim kandang gagal menggelar laga, hukumannya adalah kemenangan WO bagi tim tandang, sekaligus denda untuk tim tuan rumah.

Tidak Diakui PT Liga Indonesia Namun keanehan dan kontroversi terjadi, dimana PT Liga Indonesia selaku operator liga tidak mengakui kemenangan WO tersebut, disaat Persebaya gembira bisa melaju ke zona play-off dan berpeluang bertahan di kasta tertinggi musim depan. PT Liga Indonesia justru menerima pengajuan banding Persik, yang merasa keberatan atas hasil WO tersebut. Persik lalu diberi kesempatan untuk menggelar laga ini kembali, di Stadion Gelora Brawijaya pada 5 Agustus 2010. Seluruh Bonek -pendukung Persebaya- pun berbondong-bondong untuk datang ke Kediri, sekaligus melakukan protes karena menurutnya kemenangan sejatinya mutlak sudah dimiliki Persebaya.

Seluruh Bonek -pendukung Persebaya- pun berbondong-bondong untuk datang ke Kediri, sekaligus melakukan protes karena menurutnya kemenangan sejatinya mutlak sudah dimiliki Persebaya.

Namun sesampainya di sana, stadion kosong dan kembali batal digelar. Jika dirunut, tercatat tiga kali pertandingan gagal digelar (29 April, 6 Mei dan 5 Agustus). Polemik ini kemudian membuat PSSI angkat bicara, melalui Sekjennya kala itu. “Kalau memang gagal digelar, saya serahkan sepenuhnya kepada PT Liga selaku opertator kompetisi, untuk menjalankan aturan. Kalau di Manual Liga dinyatakan kalah, ya kalah. Aturan itu harus ditaati,” ujar Nugraha Besoes.

Menimbulkan Dua Lisme Namun, reaksi berbeda justru dikeluarkan oleh PT Liga Indonesia. Melalui Presiden Direkturnya, Andi Darussalam mereka mengelurkan perintah untuk memberi kesempatan kembali, agar laga ini terlaksana pada tanggal 8 Agustus 2010 di Stadion Gelora Sriwijaya, Palembang. Kali ini giliran pihak Persebaya yang tidak hadir, karena merasa lelah telah dipermainankan dan didzolimi. Persebaya pun akhirnya dinyatakan kalah WO 3-0 dan diakui oleh PT Liga Indonesia. Alhasil, Persebaya tetap berada di posisi ke-17. Sementara Persik, gagal naik peringkat karena kalah selisih gol dari Pelita Jaya di peringkat ke-15.

Sedangkan Pelita Jaya, tetap bertahan di ISL musim 2010/11 usai menang lawan Persiram Raja Ampat di babak play-off. Kegagalan dari penyelenggaraan laga Persik vs Persebaya ini ternyata berbuntut panjang.  Salah satunya adalah keputusan Persebaya untuk keluar dari ISL dan bergabung dengan Liga Primer Indonesia, dan mendapat hukuman dari PSSI berupa blacklist. Tak berapa lama kemudian, satu tim mengatas namakan Persebaya pun hadir mengikuti kompetisi Divisi Utama. Setelah tujuh tahun, status hukuman Persebaya pun akhirnya dipulihkan lagi oleh ketua umum PSSI terpilih Edy Rahmayadi dalam Kongres PSSI yang digelar di Bandung, Januari 2017 silam.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: